Beragama Islam Dengan Ihsan

Agama Islam, sebagaimana hadits "Jibril" terdiri dari iman, islam, ihsan dan kiamat. Dengan demikian fokus utama dalam beragama Islam adalah bagaimana kita mampu menuju level ihsan sehingga siap menghadapi hari kiamat (Shahih al-Bukhari no. 50 & Shahih Muslim no. 102).

Ihsan sebagaimana dijelaskan ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani memiliki dua makna: (1) memberi kebaikan kepada yang lain dan (2) mengetahui dan mengamalkan sesuatu dengan sangat baik (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an, hlm. 236). Artinya, ihsan adalah keinginan untuk selalu mempersembahkan yang terbaik kepada orang lain. Bukan hanya menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri, melainkan juga yang terbaik untuk orang lain, terlebih untuk Allah swt.

Ar-Raghib kemudian mengutip salah satu firman Allah swt untuk menjelaskan pengertian ihsan sebagai berikut:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat yang terbaik (QS. an-Nahl [16] : 90).

Dalam ayat di atas Allah swt menyebut ihsan sebagai sesuatu yang berbeda dari ‘adl. Sesuai dengan makna asalnya, berarti ihsan satu level lebih tinggi di atas ‘adl yang makna asalnya ‘lurus/tepat’Ar-Raghib menjelaskan, jika adil adalah memberi sesuai dengan yang semestinya atau mengambil sesuai dengan yang seharusnya, maka ihsan adalah memberi lebih banyak dari yang semestinya atau mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya. Adil hukumnya wajib, sementara ihsan hukumnya sunat (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an, hlm. 236).

Jadi ihsan ini bukan hanya amal yang biasa-biasa saja, melainkan harus “luar biasa”. Itu pula yang tampak pada setiap orang yang di masa mudanya dahulu mendamba cinta dari seorang perempuan ataupun pria. Tidak mungkin usaha yang dilakukan untuk meraih cinta yang didamba tersebut dilakukan dengan biasa-biasa saja, melainkan pasti “luar biasa”. Atau seperti yang tampak pada perilaku suporter tim sepakbola misalnya, mereka pasti melakukan hal-hal yang “luar biasa” demi mendukung tim yang dicintainya. Itu semua dilakukan maksimal meski tanpa pamrih sedikit pun. Inilah jalan cinta yang utama.

“Keluarbiasaan” ini pun dijelaskan oleh Nabi saw dalam hadits. Ketika Jibril bertanya apa itu ihsan, Nabi saw menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Shahih Muslim kitab al-iman bab ma’rifah al-iman wal-islam wal-qadr wa ‘ilmis-sa’ah no. 102)

Artinya, ihsan adalah ibadah yang tidak biasa-biasa saja, melainkan luar biasa, merasa sangat dekat dengan Allah swt seakan-akan ia melihat Allah swt atau minimalnya ia merasakan betul dilihat oleh Allah swt.

Menuju level ihsan diawali dari mempelajari ajaran Islam itu sendiri. Artinya belajar Islam diawali dengan mempelajari iman, islam dan ihsan. Iman berorientasi pada keyakinan, mencakup keyakinan yang boleh diyakini dan yang tidak boleh diyakini. Islam berorientasi pada pengamalan, mencakup pengamalan yang benar yang diajarkan Allah swt kepada Rasulullah saw. Adapun ihsan berorientasi pada pengamalan sempurna dari ajaran Islam yang diamalkan. 

Dalam bahasa keilmuan Islam, iman berarti 'aqidah, islam berarti syari'ah, ihsan berarti mu'amalah. Kalau dikerucutkan kembali pada ilmu khusus iman dalam ilmu tauhid, islam dalam ilmu fiqh, ihsan dalam ilmu akhlaq atau adab. 

Ketiga ilmu ini disebut "ilmu fardlu 'ain" oleh para ulama. Artinya ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Apapun profesinya, setiap muslim wajib mempelajari iman, islam dan ihsan dengan benar. Dengan mempelajarinya diharapkan setiap muslim mampu menjadi manusia-manusia yang seutuhnya sehingga siap menghadapi atau menyongsong hari kiamat yang pasti terjadi. 

Semoga Allah swt memberi hidayah dan taufiq agar kita mampu beragama Islam dengan ihsan hingga husnul-khatimah. Amin. Wal-'Llahul-Musta'an




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Al-Muqarrabun (Sabiqun bil-khairat)

Kisah Wanita Yang Terkena Penyakit Ayan (Epilepsi)