Beragama Islam Dengan Ihsan
Ihsan sebagaimana dijelaskan ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani memiliki dua makna: (1) memberi kebaikan kepada yang lain dan (2) mengetahui dan mengamalkan sesuatu dengan sangat baik (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an, hlm. 236). Artinya, ihsan adalah keinginan untuk selalu mempersembahkan yang terbaik kepada orang lain. Bukan hanya menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri, melainkan juga yang terbaik untuk orang lain, terlebih untuk Allah swt.
Ar-Raghib kemudian mengutip salah satu firman Allah swt untuk menjelaskan pengertian ihsan sebagai berikut:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat yang terbaik (QS. an-Nahl [16] : 90).
Dalam ayat di atas Allah swt menyebut ihsan sebagai sesuatu yang berbeda dari ‘adl. Sesuai dengan makna asalnya, berarti ihsan satu level lebih tinggi di atas ‘adl yang makna asalnya ‘lurus/tepat’. Ar-Raghib menjelaskan, jika adil adalah memberi sesuai dengan yang semestinya atau mengambil sesuai dengan yang seharusnya, maka ihsan adalah memberi lebih banyak dari yang semestinya atau mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya. Adil hukumnya wajib, sementara ihsan hukumnya sunat (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an, hlm. 236).
Jadi ihsan ini bukan hanya amal yang biasa-biasa saja, melainkan harus “luar biasa”. Itu pula yang tampak pada setiap orang yang di masa mudanya dahulu mendamba cinta dari seorang perempuan ataupun pria. Tidak mungkin usaha yang dilakukan untuk meraih cinta yang didamba tersebut dilakukan dengan biasa-biasa saja, melainkan pasti “luar biasa”. Atau seperti yang tampak pada perilaku suporter tim sepakbola misalnya, mereka pasti melakukan hal-hal yang “luar biasa” demi mendukung tim yang dicintainya. Itu semua dilakukan maksimal meski tanpa pamrih sedikit pun. Inilah jalan cinta yang utama.
“Keluarbiasaan” ini pun dijelaskan oleh Nabi saw dalam hadits. Ketika Jibril bertanya apa itu ihsan, Nabi saw menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Shahih Muslim kitab al-iman bab ma’rifah al-iman wal-islam wal-qadr wa ‘ilmis-sa’ah no. 102)
Artinya, ihsan adalah ibadah yang tidak biasa-biasa saja, melainkan luar biasa, merasa sangat dekat dengan Allah swt seakan-akan ia melihat Allah swt atau minimalnya ia merasakan betul dilihat oleh Allah swt.
Komentar
Posting Komentar