Meluruskan Niat
Setiap amal pasti ada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Begitulah pesan nabi saw tentang niat; menunjukkan betapa urgennya niat dalam setiap amal seseorang karena akan mempengaruhi diterima atau tidaknya amal tersebut.
Niat merupakan salah satu faktor utama diterimanya suatu amal. Niat merupakan amalan hati, lurus atau tidaknya niat mempengaruhi suatu amal diterima atau tidaknya oleh Allah swt.
Rasulullah saw bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amal itu ada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia niatkan” (Shahih al-Bukhari, no. 1 dan Shahih Muslim, no. 1907).
Dengan demikian seseorang yang ingin amalnya diterima oleh Allah swt selayaknya meluruskan jarum hatinya hanya untuk Allah swt (ikhlash). Dengan meluruskan jarum hati (ikhlash) akan terhindar dari ingin dilihat orang lain (riya) dan dari ingin didengar orang lain (sum'ah). Tidak boleh amal apapun ditujukan untuk selain-Nya, karena jika itu yang terjadi dipastikan amal akan tertolak walaupun amal itu terlihat istimewa dan mulia.
Dalam hadits lain, Nabi saw mengancam dengan keras orang-orang yang niatnya tidak lurus dalam amalnya walaupun amalnya istimewa dan mulia.
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتَشْهَدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya orang pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah orang yang syahid. Ia didatangkan, lalu dijelaskan nikmatnya dan ia pun mengenalinya. Dia (Allah Swt) berfirman: “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?” Ia menjawab: “Aku berperang di jalan-Mu sehingga aku syahid.” Dia berfirman: “Kamu dusta, kamu berperang agar disebut pahlawan, dan sungguh kamu telah mendapatkannya.” Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Kemudian orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya, juga membaca al-Qur`an. Ia didatangkan, lalu dijelaskan nikmat-nikmatnya dan ia pun mengenalinya. Dia (Allah swt) berfirman: “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?” Ia menjawab: “Aku belajar ilmu dan mengajarkannya, juga membaca al-Qur`an demi Engkau.” Dia berfirman: “Kamu dusta, kamu belajar ilmu agar disebut orang ‘alim dan kamu membaca al-Qur`an agar disebut qari, dan sungguh kamu telah mendapatkannya.” Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَّادٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Kemudian orang yang diberi keluasan oleh Allah dan diberi semua jenis harta. Ia didatangkan, lalu dijelaskan nikmat-nikmatnya dan ia pun mengenalinya. Dia (Allah swt) berfirman: “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?” Ia menjawab: “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai untuk diberikan infaq padanya kecuali aku berinfaq padanya demi Engkau.” Dia berfirman: “Dusta kamu, kamu berbuat seperti itu agar disebut dermawan dan sungguh kamu telah mendapatkannya.” Lalu diperintahkan agar ia diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.” (Shahih Muslim no. 1905).
Ketiga orang di atas beramal dengan amal-amal istimewa dan mulia. Tetapi karena niatnya tidak lurus (ikhlash); ada keinginan agar orang lain mengetahui bahwa dirinya seorang ‘alim, dermawan, dan seseorang yang selalu siap berkorban di jalan Allah swt, maka semua amalnya itu membawanya masuk neraka. Wal-'iyadzu bil-'Llah
Imam Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam kitabnya Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam pada syarah hadits tentang niat, bahwa ketika Mu’awiyah mendengar hadits ini ia langsung menangis sampai pingsan. Ketika terbangun, ia berkata: “Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya.” Sambil membaca ayat:
مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٦
Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Hud [11] : 15-16).
Semoga kita mampu meluruskan jarum hati kita (ikhlash) dalam setiap amal hanya untuk Allah swt. Walaupun susah memang, tapi wajib dan harus diupayakan. Wal-'Llahul-Musta'an
Komentar
Posting Komentar