Godaan Iblis di Empat Arah

Iblis adalah makhluq Allah swt yang mempunyai seribu satu cara untuk menggoda manusia agar berbuat dosa. Mereka mengepung manusia di empat arah, siapapun orangnya pasti akan dan selalu digoda untuk selalu berbuat dosa, termasuk orang bertaqwa sekalipun. Allah swt menginformasikan bahwa orang-orang bertaqwa bukan manusia yang suci dari dosa. Hanya malaikat saja yang suci dari dosa. Hanyasanya mereka yang bertaqwa selalu lekas refleks berdzikir dan istighfar setiap melakukan dosa. Apakah kita demikan?_…

Ayat yang menjelaskan Iblis menggoda manusia di empat arah dapat diketahui pada ayat berikut, 

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ 

_Iblis menjawab, ‘Karena Engkau ya Allah telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur_ (QS. al-A’râf [7] : 16-17).

Dalam ayat yang lain lebih jelas lagi mereka bersumpah akan menggoda semua manusia tanpa, 

آتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ 

_Kemudian saya (iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka_

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ 

_Iblis berkata, ‘Ya Rabbnku! Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”_ (QS. al-Hijr [15] : 39).

*Dari depan* maksudnya adalah iblis akan menyesatkan mereka dalam perkara akhirat mereka. *Dari belakang* maksudnya adalah iblis akan menjadikan mereka cinta dunia. *Dari kanan* maksudnya adalah iblis akan membuat ragu pada perkara agama mereka. *Dari kiri* maksudnya adalah iblis akan membuat mereka suka melakukan perbuatan maksiat/dosa. Ini adalah pendapat Ibn ‘Abbas ra yang diriwayatkan dari ‘Ali Ibn Abi Thalhah darinya.

Adapun ayat yang menjelaskan orang-orang bertaqwa bukan manusia tanpa dosa tercantum dari ayat berikut. 

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ 

_(Orang-orang bertaqwa) adalah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan (dosa) perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui_ (QS. Ali Imran [3] : 135).

Yakni apabila mereka melakukan suatu dosa, baik dosa-dosa kecil ataupun dosa-dosa besar maka mereka lekas mengiringinya dengan dzikir, taubat dan istighfar (memohon ampun kepada Allah swt (Tafsir Ibn Katsir).

Rasulullah saw bersabda, 

مَا أصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَإنْ عَادَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً".

_Tidak termasuk_ _ishrar_(meneruskan dosa)  seseorang yang memohon ampun (kepada Allah), sekalipun ia mengulangi dosanya itu dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali._
(Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, dan al-Bazzar, Hasan). 

Artinya bagi orang-orang bertaqwa jika dosa itu terulang sampai berulang-ulang akan selalu diampuni karena memang dipastikan mereka selalu beristighfar dan bertaubat sesaat mereka terjerumus dosa. 

Bahkan nabi saw dalam haditsnya menjelaskan tentang orang yang melakukan dosa berulang kali yang dijamin diampuni. Inilah orang-orang bertaqwa yang dimaksud. 

Mengenai hal ini, cobalah kita renungkan dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

_“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan "Ya Allah, ampunilah dosaku", lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, "Wahai Rabb, ampunilah dosaku", lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, "Wahai Rabb, ampunilah dosaku, lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni"_ (Shahih Muslim no. 2758).

Imam an-Nawawi dalam syarah shahih muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

Imam an-Nawawi pun mengatakan, _”Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah_ (Minhaj Syarah Shahih Muslim, 17/75).

Ya Rabb, begitu luas sekali rahmat dan ampunan-Mu terhadap hamba yang hina ini .

Semoga kita semua menjadi ahli dzikir, istighfar dan taubat. Amin. Wal-'Llahul-Musta'an

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Al-Muqarrabun (Sabiqun bil-khairat)

Kisah Wanita Yang Terkena Penyakit Ayan (Epilepsi)