'Ibadurrahman
Diantara manusia, ada orang-orang yang diberi gelar 'Ibadurrahman; mereka adalah hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang; mereka betul-betul hidup dalam curahan kasih sayang Allah swt dikarenakan akhlaqnya yang mempesona. Bagaimana karakteristik mereka?
Akhlaq 'Ibadurrahman *yang pertama* adalah mereka termasuk orang-orang yang rendah hati (tawadlu'), jauh dari sifat sombong (takabur) dalam menjalani kehidupan dunia,
Allah swt berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
_Hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka menjawabnya dengan bijak (QS. al-Furqan [25]: 63).
Yang dimaksud “يمشون على الأرض هوناً ” adalah mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan tenang dan penuh kewibawaan. Adapun maksud firman Allah “وإذا خاطبهم الجاهلون “, adalah ketika mereka diajak berbicara orang yang bodoh yaitu dengan perkataan yang tidak menyenangkan. Hamba Allah yang beriman selalu membalasnya dengan “سلاماً “, yaitu perkataan yang selamat dari dosa (penuh kedamaian) (Aysarut-Tafasir, 874).
Artinya mereka selalu membalas perakataan-perkataan yang tidak baik dengan perkataan-perkataan yang baik.
Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan,
فأما هؤلاء فإنهم يمشون من غير استكبار ولا مرح، ولا أشر ولا بطر،
_Adapun mereka berjalan tidak dengan sifat angkuh dan sombong_ (Tafsir al-Qur`anul-‘Azhim,10/319 ).
Dalam tafsir Jalalain (365) disebutkan,
{ الذين يَمْشُونَ على الأرض هَوْناً } أي بسكينة وتواضع
Mereka 'Ibadurrahman berjalan di muka bumi dalam keadaan ‘Hauna’ yaitu dalam keadaan tenang dan rendah hati (tawadlu').
Adapun dimaksud berjalan dalam keadaan ‘Haunan’ menurut Mujahid adalah,
يمشون بالوقار والسكينة
_Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan_ (Zadul-Masir, 6/101).
Adapun akhlaq *yang kedua* adalah mereka bersikap lemah lembut meski mendapatkan perlakuan kasar.
Ketika orang-orang yang jahil berkata kasar kepada mereka _‘Ibadurrahman_ mereka membalasnya dengan perkataan yang _sadad_(baik) (Zadul-Masir, 6/101).
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
لا يجهلون على أحد ، وإِن جهل عليهم حَلُموا
“Mereka _‘Ibadurrahman_ tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut_”
Maqatil Ibn Hayyan berkata, _Mereka membalasnya dengan perkataan yang tidak mengandung dosa_ (Zadul-Masir, 6/101).
Sa’id Ibn Jubair berkata, _Mereka membalas (kejelekan) dengan perkataan yang baik_ (Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, 10/321).
Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Jika orang jahil mengajak bicara mereka yaitu dengan kejelakan, mereka tidak membalasnya dengan semisalnya. Bahkan mereka memberi ma'af dan tidak membalas kecuali dengan kebaikan. Sebagaimana sikap Rasulullah saw, semakin orang yang jahil bertindak kasar pada beliau, semakin beliau berlaku lemah lembut pada mereka. Hal ini sebagaimana diisyaratkan pula pada firman Allah swt,
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
_Apabila mendengar perkataan buruk, mereka berpaling dan berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu. Semoga kamu selamat, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil_ (QS. al-Qashash [28] : 55) (Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, 10/320).
Dalam ayat lain, Allah swt berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)
_Kebaikan tidak sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang-orang yang memusuhimu akan seperti teman setia. Sifat-sifat yang baik tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar_ (QS. Fushshilat [41] 34-35).
Shahabat yang mulia, Ibn ‘Abbas ra mengatakan, "_Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang berbuat jahil, dan mema'afkan ketika ada yang berbuat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini_”
Ibn Katsir rahimahullah mengatakan, “_Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang-orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang-orang yang menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa_” (Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, 12/243).
Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Inilah pujian bagi mereka 'Ibadurrahman karena sifat lemah lembut yang mereka miliki, kejelekan yang mereka balas dengan kebaikan, dan mereka pun membalas orang-orang yang jahil (nakal atau jahat)_" (Taisir al-Karimir-Rahman, 586).
Itulah akhlaq 'Ibadurrahman yang pertama dan kedua, semoga kita mampu mengamalkannya. Aamin
Wal-'Llahul-Musta'an
Bersambung.....
Referensi:
Aysarut-Tafasir, Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi, terbitan Maktab Adlwa`ul-Manar, cetakan pertama, 1419 H.
Tafsir Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, terbitan Maktabah as-Shafa, cetakan pertama, 1425 H.
Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, Ibn Katsir, terbitan Mu`assasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
Taisir al-Karimir-Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di, terbitan Mu`assasah ar-Risalah , cetakan pertama, tahun 1423 H.
Zadul-Masir, Ibnul-Jauzi, terbitan al-Maktab al-Islami, cetakan ketiga, 1404 H.
Komentar
Posting Komentar