Konsumsi Hati
Jika tubuh memerlukan asupan konsumsi, maka hati pun sama membutuhkan konsumsi agar tetap sehat. Jika tubuh yang sehat ditandakan dengan badan yang segar dan kuat, maka hati yang sehat ditandakan dengan tenteram dan jauh dari gelisah. Jika konsumsi untuk tubuh adalah konsumsi yang menunjang kekuatan untuk badan, maka konsumsi hati adalah amal-amal yang menunjang hati senantiasa tenteram. Ada tiga jenis hati yang disebutkan Allah swt dalam al-Qur`an; ammarah, lawwamah dan muthma`innah. Kita tinggal introspeksi, diantara tiga jenis hati tersebut diposisi mana hati kita berada?
Orang-orang yang hatinya kekurangan gizi sering disebut oleh Allah swt sebagai orang-orang yang “hatinya sakit”; alladzina fi qulubihim maradl. Sebagaimana dijelaskan oleh ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani, yang dimaksud “hati sakit” itu memang bukan adanya penyakit fisik dalam hati seperti kanker atau tumor, tetapi adanya penyakit batin yang menyebabkan hati dan bahkan tubuh menjadi sakit juga. Sebab akan menjadikan seseorang terhalang dari kesempurnaan dan terdorong pada hal-hal yang jelek, sebagaimana juga menimpa pada orang-orang yang terhinggapi penyakit fisik (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an).
Untuk *jenis hati yang pertama* ini, dalam kategorisasi yang lain, al-Qur`an menyebut orang-orang yang hatinya sakit ini sebagai orang-orang yang jiwanya masih mendorong-dorong (ammarah) kepada kejelekan. Itu disebabkan tidak adanya rahmat Allah swt yang masuk ke dalam jiwanya:
۞وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣
(Yusuf as berkata) Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu (jiwa yang kotor) itu selalu menyuruh (ammarah) kepada kejahatan, kecuali nafsu (jiwa) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Yusuf [12] : 53).
Jenis hati pertama ini biasa hinggap pada hati orang-orang kafir (kuffar) dan setiap muslim yang banyak melakukan pelanggaran/dosa (muslimin).
Untuk *hati jenis kedua* adalah hati yang sakitnya tidak terlalu parah, disebut oleh al-Qur`an sebagai nafsu lawwamah; jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh ulama tafsir generasi salaf, ‘Ikrimah, yakni jiwa yang selalu menyesali diri atas kebaikan yang luput dan kejelekan yang diamalkan; seandainya aku melakukan ini dan itu (Tafsir Ibn Katsir QS. al-Qiyamah [75] : 1-2). Artinya, hatinya masih dekat dengan kejelekan, meski ia sudah tahu bahwa itu jelek dan salah.
Firman Allah swt yang menyinggung hati lawwamah adalah:
لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ١ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ٢
Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) (QS. al-Qiyamah [75] : 1-2).
Jenis hati kedua ini biasa hinggap pada orang-orang beriman yang belum sempurna keimanannya (mukminin).
Sementara *jenis hati yang ketiga* adalah hati yang sehat adalah hati yang tenteram sepenuhnya. Jauh dari kegelisahan yang diakibatkan oleh amal-amal jelek, apalagi hati yang membatu dalam keburukan dan rutin dengan kebiadaban sebagaimana disinggung dalam ayat-ayat fi qulubihim maradl di atas. Hati yang sehat ini disebut dengan nafsu muthma`innah, yang sudah dipastikan akan masuk ke surga-Nya.
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ٢٩ وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي ٣٠
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku (QS. al-Fajr [79] : 27-30).
Jenis hati ketiga ini biasa hinggap pada orang-orang beriman yang sudah sempurna keimanannya (muhsinin).
Konsumsi pokok agar hati muthma`innah adalah dzikrul-‘Llah:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨
(Orang-orang yang akan diberi hidayah adalah) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. ar-Ra’d [13] : 28).
Dzikrul-‘Llah (mengingat Allah) mencakup semua amal yang didasari ingat kepada Allah swt. Secara khusus istilah dzikr ini ditujukan pada amal menyebut dan memuji Allah swt secara lisan, khususnya di waktu malam. Tasbih, tahmid, istighfar, sujud, berdo’a dan shalat adalah amal-amal yang pokoknya. Demikian juga melantunkan bacaan al-Qur`an lewat hafalan, mengkaji dan mengamalkan kandungannya. Inilah makanan-makanan yang akan menyuplai gizi pada hati. Memakan “makanan hati” ini akan menjadikan hati senantiasa sehat, jauh atau bahkan bebas dari penyakit apapun. Tidak mengkonsumsinya atau jarang dan hanya sesekali, akan menyebabkan hati tidak sehat dan berpenyakit. Sementara penyakit hati itu tidak akan sembuh dengan sendirinya. Jika didiamkan akan semakin bertambah penyakitnya dan akhirnya mati. Orang-orang seperti ini pada hakikatnya adalah mayat-mayat hidup. Mereka terlihat hidup tetapi sebenarnya sudah menjadi mayat.
Konsumi untuk hati itu adalah semua yang akan menjadikan hati semakin tenteram. Dan itu bahan bakunya adalah al-haqq yang akan mendorong jiwa selalu dalam kebenaran. Bukan dengan hal-hal yang justru bohong, penuh kepalsuan, dan hanya sandiwara belaka. Konsumsi yang terbuat dari kebohongan dan kepalsuan, hanya akan mengakibatkan hati penuh dengan kebohongan, kepalsuan, kegelisahan, dan kegalauan. Konsumsi yang bahan bakunya kebohongan dan kepalsuan itu adalah musik, lagu, film, sinetron, humor, infotainment, dan semacamnya. Jika konsumsi untuk hati selalu itu atau selalu lebih banyak yang bahan bakunya diambil dari hiburan di TV, radio, tape, android, dan internet, maka jangan heran jika hati selalu tidak pernah bisa tenteram dalam ibadah dan tidak pernah nikmat dalam ketaatan.
Para ulama menjelaskan dari tiga hati tersebut jika itu ada pada setiap muslim akan menentukan proses masuk surganya di akhirat kelak. Untuk hati jenis pertama,_ammarah_ kemungkinan tidak langsung masuk surga. Adapun untuk hati jenis kedua _lawwamah_ kemungkinan masuk surga, namun pada tahap kedua. Dan untuk hati jenis ketiga, _muthma`innah_ dipastikan langsung masuk surga tanpa hisab, yaitu pada tahap awal/pertama. Ini erat kaitannya dengan ayat lain yang semakna dengan tiga golongan umat Islam; _zhalim linafsih_, _muqtashid_ dan _sabiqun bil-khairat_. Berbeda dengan orang-orang kafir, maka dipastikan akan langsung masuk neraka tanpa hisab (Tafsir QS. Fathir [35] : 32).
Semoga kita mampu rutin menjaga konsumsi hati selain rajin juga memberikan konsumsi pada tubuh kita. Aamiin
Wal-‘Llahul-Musta’an.
https://al-ihsaninstitute.blogspot.com/2020/07/konsumsi-hati.html?m=1
Komentar
Posting Komentar