Ulul-Albab

Diantara para ilmuwan, ada gelar yang Allah swt sematkan untuk orang-orang beriman yang berlimu ('alim); mereka merupakan kaum Intelektual Muslim yang layak dijadikan rujukan dalam ilmu, khususnya ilmu agama Islam, mereka disebut Ulul-Albab. Kefahaman yang mendalam terhadap al-Qur`an dan Sunnah ada pada diri mereka. Kepada merekalah umat harus mengambil ilmu, karena Allah swt sendiri menyebutkan bahwa mereka termasuk orang-orang yang benar-benar berilmu. Lalu bagaimanakah karakteristik Ulul-Albab itu?

Ulul-Albab terdiri dari dua kata; _ulu_ yang berarti pemilik atau penyandang, dan _albab_ yang artinya pikiran yang inti. ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan dalam kitabnya, al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an pengertian Ulul-Albab sebagai berikut:

اللُّبُّ: العقل الخالص من الشّوائب، وسمّي بذلك لكونه خالص ما في الإنسان من معانيه، كَاللُّبَابِ واللُّبِّ من الشيء، وقيل: هو ما زكى من العقل، فكلّ لبّ عقل وليس كلّ عقل لبّا.

_Lubb_ adalah akal yang bersih dari segala kotoran. Diistilahkan dengan itu karena keadaannya yang murni dalam diri manusia dari sekian makna-maknanya. Seperti istilah _lubab_ dan _lubb_ (intisari) dari segala sesuatu. Ada juga yang menyatakan _lubb_ itu adalah akal yang suci. Jadi setiap _lubb_ pasti akal, tetapi tidak setiap akal adalah _lubb_.

Maka dari itu, Allah swt mengaitkan hukum-hukum yang hanya bisa dipahami oleh akal-akal yang suci dengan _ulul-albab_, seperti firman-Nya: 

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

_Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah (Ulul-Albab) yang dapat mengambil pelajaran_ (QS. al-Baqarah [2] : 269) dan ayat-ayat lain yang semisalnya.

*Karakteristik Ulul-Albab*

Ditelusuri dari semantik maknanya dalam al-Qur`an, _Ulul-Albab_ setidaknya memiliki 10 kriteria, yaitu:

*Pertama*, selalu tadzakkur; mengambil dan merenungkan pelajaran yang terkandung dari ayat-ayat al-Qur`an, sehingga hatinya senantiasa ada dalam dzikir dengan al-Qur`an.

*Kedua*, menaati hukum Allah swt. Ini sebagai konsekuensi dari dzikirnya terhadap al-Qur`an. Hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur`an tidak dipahami dengan kritis, melainkan dengan dzikir bahwa semuanya kehendak mutlak Allah swt, lalu diamalkan. _Ulul-Albab_ pun selalu mampu merenungkan hikmah dan pelajaran dari balik setiap hukum-hukum Allah swt tersebut.


*Ketiga*, memiliki hikmah dan dermawan. Hikmah sebagaimana dijelaskan ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani adalah ishabatul-haqq bil-‘ilm wal-‘aql; mencapai haq dengan ilmu dan yakin. Artinya kemampuan untuk menepati kebenaran dengan ilmu. Atau sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur`an Terjemah Kemenag “kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah”. Dalam QS. al-Baqarah [2] : 269 disebutkan bahwa hikmah tersebut menuntunnya pada sifat dermawan dan tidak lagi terkungkung oleh alam pikiran bakhil. Dengan kata lain, ia cerdas secara intelektual dan juga cerdas secara emosional, sosial dan finansial.

*Keempat*, rasikh (matang dan mendalam) dalam ilmu dan iman.
Artinya _Ulul-Albab_ adalah para peneliti al-Qur`an yang tidak terjebak pada kesesatan (zaigh) dikarenakan kejernihan akalnya dari kabut-kabut ideologi.

*Kelima*, selalu dzikir dan tafakkur. Dzikir adalah olah batin dan rasa, sementara tafakkur adalah olah pikir dan jiwa. _Ulul-Albab_ adalah orang-orang yang selalu mengolah batin, rasa, jiwa, dan pikirnya. Mereka bukan orang-orang yang hanya meneliti ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi juga dekat dan selalu mendekat kepada Allah swt melalui dzikir-dzikir. Bukan hanya ahli dalam menenteramkan jiwanya, melainkan juga aktif dalam mengembangkan penelitian keilmuannya.

*Keenam*, tidak berfaham relativis (menilai semua pemahaman benar) atau skeptis (menilai semua aliran salah). Faham relativisme akan mendorong pada pluralisme, sementara skeptisisme akan mendorong pada atheisme atau minimal komunisme. _Ulul-Albab_ selalu meyakini bahwa kebenaran itu ada dan bisa diperoleh dengan sumber acuan wahyu Allah swt.

*Ketujuh*, selalu belajar pada sejarah. Sebab sejarah menurut al-Qur`an bukan hanya haditsan (kisah belaka) yang dibuat-buat ibarat dongeng, melainkan ‘ibrah (cerminan pelajaran) yang akan menjadi tashdiq (pembenar) hukum-hukum Allah swt, tafshil (menjelaskan) segala sesuatu, sekaligus menjadi hidayah dan rahmat bagi yang beriman.

*Kedelapan*, berhasil memadukan iman dan akhlaq mulia. Sebab terlalu banyak orang yang mengaku beriman atau bahkan disebut oleh masyarakat sebagai orang cerdas, intelek, tetapi akhlaqnya jauh dari kemuliaan. 

*Kesembilan*, selalu menghidupkan malam dengan sujud dan qiyam, sebagai bukti konkret dari kedekatannya kepada Allah swt, ketakutannya akan siksa akhirat, dan besar pengharapannya akan rahmat Rabbnya.

*Kesepuluh*, cerdas dalam memilih yang benar. _Ulul-Albab_ bukan orang-orang fasiq yang seenaknya saja menerima berita atau data, lalu menelannya mentah-mentah, dan kemudian malah menyebarkannya. _Ulul-Albab_ akan mencermati terlebih dahulu setiap berita dan data yang diterimanya, untuk kemudian diteliti mana yang paling ahsan. Ini sebagai cerminan hidupnya diberi hidayah oleh Allah swt.

Jadi seorang intelektual muslim _(Ulul-Albab)_ sudah pasti memahami al-Qur`an dan menghafalnya, karena al-Qur`an sudah jadi materi dzikirnya dan amalnya. Seorang intelektual muslim juga sudah pasti memahami hadits-hadits Nabi saw, sebab ia adalah orang yang diberi al-Hikmah oleh Allah swt. Seorang intelektual muslim sudah pasti rutin menghidupkan malam dengan sujud dan qiyam, merutinkan dzikir yang ma`tsur dari al-Qur`an dan Sunnah juga dzikir lainnya, berakhlaq mulia, dan berjiwa dermawan. Seorang intelektual muslim selalu mampu memahami hukum-hukum Allah swt dengan jernih lalu kemudian mengamalkannya, merenungkan pelajaran dari setiap hukum dan sejarah, tidak terjebak pada ayat-ayat mutasyabihat dan paham relativisme atau skeptisisme, selalu aktif meneliti ilmu pengetahuan di setiap saatnya, dan cerdas untuk selalu memilih yang benar dan baik. 

Semoga Allah swt menjadikan kita termasuk Ulul-Albab. Aamiin

Wal-'Llahul-Musta'an

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Al-Muqarrabun (Sabiqun bil-khairat)

Kisah Wanita Yang Terkena Penyakit Ayan (Epilepsi)