Fiqh Gemuk Dalam Islam
Tulisan ini hendak meluruskan pemahaman bagaimana fiqh gemuk dalam ajaran Islam; di satu sisi Allah swt tidak melihat jasad kita apakah gemuk atau kurus. Tapi di sisi lain Allah swt & Rasulullah saw mencela orang-orang yang gemuk yang sampai obesitas karena pola hidup, terutama makan yang boros (tabdzir) Dan berlebihan (israf) karena akan menyebabkan jeleknya akhlaq. Ini tentu berbeda jika gemuk itu adalah bawaan dari lahir. Di satu sisi juga Nabi saw berbadan gemuk menjelang wafatnya. Lalu bagaimanakah pemahaman yang benar tentang gemuk dalam Islam? Tanpa mengurangi rasa hormat tulisan ini tidak hendak menyudutkan atau menyinggung ikhwatu iman yang kebetulan berbadan gemuk.
Dalam kehidupan beragama Allah swt tidak melihat bentuk rupa jasad kita, melainkan hati dan amal kita. Nabi saw bersabda;
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
_“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa (jasad) dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati (batin) dan amalan kalian”_ (HR. Muslim no. 2564).
Namun di sisi lain Allah swt mencela orang-orang yang gemuk (obesitas) karena pola hidup boros (tabdzir) dan berlebihan (israf). Pola hidup seperti ini seperti orang-orang kafir,
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ ٱلْأَنْعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ
_Dan orang-orang kafir selalu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka_ (QS. Muhammad [47] : 12).
Begitupun isyarat Allah swt yang menyatakan jikan pola makan dan senang-senang ini dijadikan prioritas maka akan mudah menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa,
كُلُوا۟ وَتَمَتَّعُوا۟ قَلِيلًا إِنَّكُم مُّجْرِمُونَ
_(Dikatakan kepada orang-orang kafir): "Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang sebentar; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa"_ (QS. al-Mursalat [77] : 46).
Para ulama memang menjelaskan sumber dosa itu berawal dari syahwat, dan syahwat itu berawal dari makan yang berlebihan. Oleh karenanya pantas jika Allah swt melarang manusia untuk makan berlebihan (israf),
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوٓا
_“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan (israf)”_ (QS. al-A’raf [7]: 31)…
Bahkan Nabi saw menjelaskan bahwa perut manusia adalah wadah yang paling buruk jika selalu diisi penuh (berlebihan).
ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
_“Tidaklah anak Adam (manusia) memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas_ (Sunan Ibn Majah no. 3349).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata,
لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة
_“Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.”_ (Siyar A'lamin-Nubala`).
Ada beberapa dalil yang menunjukkan celaan bagi orang gemuk karena banyak makan. Rasulullah saw bersabda,
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
_Generasi terbaik adalah generasi di zamanku (shahabat), kemudian masa setelahnya (tabi'in), kemudian generasi setelahnya (atba tabi'in). Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya (berdusta), bernazar (berjanji) tapi tidak melaksanakannya (ingkar), dan nampak pada mereka kegemukan (obesitas karena pola hidup-pen)”_ (Shahih al-Bukhari 2651 dan Shahih Muslim 6638).
Dari hadits di atas gemuk yang sampai obesitas akan mengantarkan kepada akhlaq tercela; khianat, berdusta dan ingkar.
Sementara itu Rasulullah saw termasuk orang yang gemuk menjelang wafatnya. Bagian ini yang dikecualikan, gemuk yang tidak tercela. Gemuk bukan karena malas-malasan, dan bukan karena terlalu banyak makan. Dia tetap menjadi pahlawan bagi umat, dan berusaha melakukan aktivitas yang bermanfa'at. Sebagaimana yang dialami Nabi aw di penghujung usia beliau dan beberapa shahabat lainnya.
'Aisyah ra menceritakan,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُوتِرُ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا بَدَّنَ وَلَحُمَ صَلَّى سَبْعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ
_Bahwa Nabi saw melakukan witir 9 raka'at, setelah beliau mulai gemuk dan berdaging (berlemak tubuhnya), beliau shalat 7 raka'at. Kemudian shalat 2 raka'at sambil duduk_ (Musnad Ahmad no. 26651 dan Shahih al-Bukhari no. 4557).
Dari Hasan Ibn Ali ra,
Saya bertanya kepada pamannya, Ibn Abi Halah tentang ciri fisik Nabi saw. Beliau mengatakan,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم فخما مفخما
_Rasulullah saw adalah orang yang badannya besar (gemuk)_ (As-Syama`il Muhammadiyah Turmudzi, 1/34).
Sebagian menafsirkan kata: _fakhman_ _mufakhaman_ dengan gemuk…
.
Maula Ali Qari mengatakan,
وَأَمَّا مَا وَرَدَ أَنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ السَّمِينَ ; فَمَحْمَلُهُ إِذَا نَشَأَ عَنْ غَفْلَةٍ وَكَثْرَةِ نِعْمَةٍ حِسِّيَّةٍ كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ رِوَايَةُ يُبْغِضُ اللَّحَّامِينَ
_Riwayat yang menunjukkan bahwa Allah membenci orang gemuk, dipahami jika gemuk ini terjadi karena kelalaian, terlalu banyak menikmati kenikmatan lahir, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat tentang kebencian bagi orang gemuk_ (Jam’ul-Wasa`il fi Syarah as-Syama`il, 1/34).
Dengan demikian sangat jelas tidak semua yang gemuk tercela. Gemuk yang tercela adalah disebabkan pola hidup/makan yang berlebihan (israf) dan boros (tabdzir) sehingga menyebabkan jelek akhlaq. Sedangkan gemuk yang tidak tercela adalah gemuk yang dari bawaan lahir dan tetap dalam keta'atan beribadah sebagaimana Rasulullah saw dan para shahabat yang umumnya berbadan besar (gemuk).
Wal-'Llahu a'lam bis-shawab
Sumber; Rumaysho, Konsultasi Syari'ah & Yufid
Komentar
Posting Komentar