Hati-hati Dalam Berkata!

_Promosi viral Odading "Mang Oleh" oleh salah satu berita hangat di media sosial bahkan sampai berita nasional. Ini jelas merusak budaya lisan orang Sunda dikarenakan dalam promosinya orang tersebut menggunakan kata-kata kasar yang jauh dari adab seorang mukmin. Di satu sisi memang itu merupakan daya tarik, namun dalam tinjauan syar'i itu merupakan ucapan yang tidak layak terlontar. Bukan hanya merusak Citra orang sunda tetapi akan merusak lisan moral generasi bangsa. Dan yang lebih miris lagi adalah salah satu pejabat negara memberikan apresiasinya terhadap promosi ini dengan memberikannya hadiah dan akan menobatkannya sebagai salah satu duta kuliner_… 

Promosinya memang kelihatan bagus dan menarik perhatian, tapi sayangnya ternodai dengan kata g_ _ _ _g dan a_ _ _ _ g sudah merusak budaya lisan orang Sunda, dengan hilangnya budaya santun dan lemah lembut. 

Odading mang Oleh yang rasanya 'Kentut' banget sudah  viral dan mengundang kaum "Latah" untuk ikut ngantri walau harus berjam-jam. Juga mengundang para youtuber untuk "Nyampah'' dengan review yang tidak perlu.

Yang disesalkan efek dari viralnya itu ada duflikasi kata-kata tak pantas yang selama ini kita berantas selaku pegiat amar ma'ruf nahi munkar. Anak-anak yang nongkrong bukannya baca "basmalah", malah menirukan kata-kata yang viral itu saat hendak makan-makanan apapun. 

Padahal ajaran Islam jelas memerintah dan menuntut setiap orang-orang beriman agar berkata yang terbaik dan menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak pantas. 

وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا

_Dan ucapkanlah kata-kata yang terbaik kepada manusia_ (QS. al-Baqarah [2] : 83).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

_“Sesungguhnya ada seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa (sepele), padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.”_ (Sunan at-Tirmidzi no. 2314. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib). 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
_“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47). 

Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya. 

Semoga kita mampu menjaga lisan kita dari tutur kata yang tidak pantas. Aamiin

Wal-'Llahul-Musta'an

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Al-Muqarrabun (Sabiqun bil-khairat)

Kisah Wanita Yang Terkena Penyakit Ayan (Epilepsi)