Meneladani Rasulullah saw
_Bulan Rabi'ul-Awwal sering diidentikkan dengan bulan cinta nabi saw, tidak heran di bulan ini setiap tahunnya sebagian umat Islam mengekpresikan cintanya dengan memperingatinya. Sebagiannya lagi lebih memilih tidak memperingatinya karena pada hakikatnya klaim cinta kepada nabi saw yang sesungguhnya adalah dengan berusaha meneladani kehidupan Rasululullah saw dalam segala aspek ruang dan waktu_..
Ketika Ibunda Aisyah ra ditanya mengenai akhlaq Rasulullah saw, beliau menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ- رواه أحمد
_Akhlaqnya adalah al-Qur`an_ (Riwayat Ahmad).
Ini berarti kehidupan Rasulullah saw merupakan manifestasi ril al-Qur`an. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa beliau adalah al-Qur`an berjalan. Artinya semua ajaran Islam yang diwahyukan oleh Allah swt mampu beliau aktualisasikan dalam kehidupannya. Dengan demikian, untuk mengukur sudah atau belumnya kita meneladani Rasulullah saw adalah kita memuhasabah sudah sejauhmana pengamalan kita terhadap seluruh ajaran Islam.
Ajaran Islam adalah wahyu dari Allah swt berwujud al-Qur`an dan Sunnah (hadits). Meneladani Rasulullah saw berarti kita berusaha mengamalkan ajaran Islam yang termaktub dalam wahyu tersebut. Bohong belaka jika kita mengaku mencintai nabi saw tetapi masih jauh dari ajaran Islam.
Ajaran Islam meniscayakan umatnya beraqidah, beribadah dan bermu'amalah dengan benar. Tipologi ideal dalam beragama sudah diteladankan oleh Rasulullah saw dalam segala ruang dan waktu kehidupannya. Rasulullah saw diutus kepada kita adalah untuk mengajarkan ajaran Islam demi kesucian jiwa kita.
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
_Sungguh Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allâh mengutus seorang Rasul (Muhammad saw) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, mengajarkan Kitab (al-Qur`ân) dan Hikmah (Sunnah)_ (QS. Ali Imran [3] : 164).
Allah swt sendiri menegaskan bahwa beliau saw adalah sosok manusia teladan dalam kesempurnaan akhlaqnya.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
_Sungguh kamu (Muhammad saw) benar-benar memiliki akhlaq yang sempurna (QS. al-Qalam[68]: 4).
Tidak heran tujuan diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia yang belum sempurna sebelumnya. Rasulullah saw sendiri bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
_ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlaq_ (Sunan al-Baihaqi).
Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi sawbmerupakan agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia sepanjang masa.
Dengan demikian tidak ada cara lain dalam meneladani akhlaq Rasulullah saw adalah dengan mempelajari, memahami, mengamalkan dan mendakwahkan seluruh ajaran Islam yang termaktub dalam al-Qur`an dan Sunnah.
Semoga kita mampu benar-benar meneladaninya. Aamiin
Wal-'Llahul-Musta'an
Komentar
Posting Komentar