Antara Daging & Ghibah

Tidakkah Bosan Makan Daging Bangkai Saudara Sendiri?

_Daging, daging apa yang paling banyak peminatnya dan tak pernah banyak orang bosan memakannya? Jawabannya adalah daging bangkai saudaranya sendiri. Padahal daging ini adalah daging bangkai. Ghibah diperumpamakan dalam al-Qur`an dengan “memakan daging mayat saudara sendiri”. Tidakkah bosan memakan daging bangkai saudara sendiri? Sembari menikmati daging sebaiknya ingat juga terhadap bahaya ghibah ini_

Umat Islam sedang merayakan hari rayanya. Menikmati berbagai macam jenis daging yang siap disantap. Mulai dari daging domba, kambing, sapi bahkan unta. Dinikmatinya daging-daging tersebut tentu merupakan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Namun apakah kita ingat bahwa ada daging yang biasa kita santap namun hakikatnya itu bangkai? Bahkan bangkai saudara kita sendiri. Tentu kita jijik dengannya. Semoga di momen menyantap hidangan daging ini tidak melupakan kita mengingat satu dosa yang mungkin masih kuta lakukan berulang-ulang yakni ghibah.

Ghibah, benar-benar tidak memberikan peluang sedikit pun bagi setiap muslim untuk berakhlaq jelek. Sebab baik itu benar atau keliru, kejelekan siapapun yang dibicarakan, sama-sama berdosanya. Jika orang yang Jika orang yang dibicarakan itu benar jeleknya, berarti itu ghibah dan haram. Kalaupun orang yang dibicarakan itu sebenarnya tidak jelek, berarti itu dusta dan tetap haram (Shahih Muslim no. 6758).

Allah SWT berfirman,

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

_“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya”_
(QS. al-Hujurat [49] :12)

Harusnya seseorang sangat benci makan mayat (bahkan jijik), seharusnya ini juga yang ia rasakan ketika melakukan ghibah.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan,

_“Diserupakan dengan memakan daging mayat saudara karena hal ini dibenci oleh jiwa, (sangat benci) dengan melakukan ghibah.”_
(Tafsir As-Sa’di)

Namun sangat tidak disadari justru daging bangkai ini lebih diminati daripada daging segar lainnya. Dari mulai orang-orang yang berbelanja di pasar, ibu-ibu arisan, anak-anak muda yang nongkrong di kafe, penggiat sosial media, acara televisi sampai ke jama'ah pengajian sekalipun.

Semua suka daging bangkai ini. Bahkan mungkin termasuk diri kita sendiri. Mungkin masih merasa sulit untuk menjauh dari nikmatnya bangkai saudara-saudara kita, tapi bukan berarti tidak mungkin. Berhati-hatilah, karena boleh jadi setitik ghibah yang kita sebar
Dibumbui fitnah oleh mereka yang mendengar,makin banyak yang tersebar makin terbakar amalan kita, hangus oleh api ghibah bagai kayu dibakar api.

Ini pengingat diri bukan untuk menghakimi tapi untuk mencari solusi bagaimana memperbaiki diri. Kelak diri ini akan jadi saksi di hadapan Ilahi tentang siapa yang disakiti karena lisan tak hati-hati. Bisa jadi banyak yang mampu menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum selama berpuasa, akan tetapi terkadang mereka tidak bisa menahan diri untuk “tidak makan daging saudaranya sendiri”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

_“Apakah kalian tahu apa itu ghibah?”_

_Para sahabat mengatakan: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”_

_Rasulullah berkata: “(Gibah adalah) Menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.”_

_Mereka berkata: “Bagaimana menurutmu jika (benar) ada pada saudaraku apa yang aku katakan?”_

_Rasulullah berkata: “Jika (benar) ada pada dirinya maka itulah gibah, dan jika tidak ada pada dirinya maka engkau telah menfitnahnya.”_
(HR. Muslim dalam Kitab al-Bir was-Shilah wal-Adab, bab Tahrimul-Ghibah no. 2589)

Ghibah berarti menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri orang yang tidak kita sukai.
Ghibah bisa menyasar fisik, agama, kekayaan, perbuatan, atau segala atribut orang yang bersangkutan. Caranya bisa bermacam-macam.
Antara lain membeberkan aib, meniru tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang digunjingkan dengan maksud mengolok-oloknya.

Jika kita melihat kesalahan saudara kita, maka sampaikan langsung dengan berani tanpa menyakiti hati. Mari menasehati dengan hati dan lisan yang terpuji. Seorang yang mengaku muslim hendaknya dapat memerangi pergunjingan di manapun berada. Dengan begitu, ia akan melindungi kehormatan saudara muslimnya dari orang yang bergosip atasnya.
Dan mari kita renungkan didalam hati dan tanyakan pada diri sendiri, apakah kita merupakan pelaku ghibah?
Ataukah ghibah menjadi hal favorit yang kita lakukan setiap harinya tanpa kita sadari?

Wal-'iyadzu bil-'Llah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Al-Muqarrabun (Sabiqun bil-khairat)

Kisah Wanita Yang Terkena Penyakit Ayan (Epilepsi)