Berdzikir Sepanjang Menyetir

_Mudik pada momen lebaran sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Perjalanan mudik yang melelahkan tidak sedikit mengganggu ketentraman jiwa, perasaan, batin, dan pikiran. Apalagi ketika dihadapkan suasana macetnya jalanan. Penenangan jiwa itu sendiri umumnya diisi dengan hiburan dan nyanyian saja. Padahal Islam sudah mengajarkan hanya dengan dzikir hati akan menjadi tenang dan tentram. Maka dari itu dalam setiap perjalanan safar sekalipun Rasulullah saw selalu memenuhinya dengan dzikir; shalat, membaca/mendengarkan al-Qur`an (murattal) dan bacaan-bacaan dzikir dalam perjalanan_

Mudik dengan tenang dan tentram hanya akan tercapai dengan dzikrul-‘Llah. Itu sudah Allah swt maklumatkan dalam salah satu firman-Nya:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  ٢٨

_*(Yang akan mendapat hidayah Allah itu adalah) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram*_ (QS. ar-Ra’d [13] : 28).

Terkait ayat di atas, al-Hafizh Ibn Katsir menafsirkan: 

تَطِيبُ وَتَرْكَنُ إِلَى جَانِبِ اللهِ، وَتَسْكُنُ عِنْدَ ذِكْرِهِ، وَتَرْضَى بِهِ مَوْلًى وَنَصِيرًا

_*“Yakni hati mereka selalu nikmat dan condong ke hadirat Allah, merasakan sakinah (kedamaian) ketika berdzikir kepada-Nya, dan selalu ridla kepada-Nya sebagai satu-satunya Yang Memberi Perlindungan juga Penolong.”*_

Inilah penenang hati yang sebenarnya. Hati yang diisi dengan hiburan dan senang-senang hanya merupakan healing semu yang bersifat sementara. Sesudahnya tidak tenang kembali. Sementara dengan dzikrul-‘Llah maka selamanya hati akan serasa di-healing sepanjang hidup. Bukan sebagaimana yang umum dijumpai; healing sesaat, dan sesaat kemudian stress kembali dan tidak tenang.

Orang-orang yang selalu mengisi healing-nya dengan hiburan dan senang-senang saja serta malah jauh dari dzikrul-‘Llah justru Allah swt tegaskan akan selalu merasakan kesempitan hidup/stress:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ  ١٢٤

_*“Dan siapa berpaling dari dzikir kepada-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”*_(QS. Thaha [20] : 124).

Kehidupan sempit (_ma’isyatan dlankan_) yang dimaksud ayat di atas dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Katsir sebagai berikut: 

{فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا} أَيْ: فِي الدُّنْيَا، فَلَا طُمَأْنِينَةَ لَهُ وَلَا انْشِرَاحَ لِصَدْرِهِ، بَلْ صَدْرُهُ ضَيِّقٌ حَرَج لِضَلَالِهِ، وَإِنْ تَنَعَّم ظَاهِرُهُ وَلَبِسَ مَا شَاءَ وَأَكَلَ مَا شَاءَ وَسَكَنَ حَيْثُ شَاءَ، فَإِنَّ قلبه مَا لَمْ يَخْلُصْ إِلَى الْيَقِينِ وَالْهُدَى فَهُوَ فِي قَلَقٍ وَحَيْرَةٍ وَشَكٍّ فَلَا يَزَالُ فِي رِيبَةٍ يَتَرَدَّدُ. فَهَذَا مِنْ ضَنْكِ الْمَعِيشَةِ

_*“Yaitu mereka hidup sempit di dunia tanpa ada ketenteraman dan kelapangan, karena hatinya sempit dan sesak diakibatkan kesesatannya, meskipun secara lahirnya ia kelihatan senang; berpakaian sesuai yang ia mau, makan sesuai yang ia ingin, dan tinggal di rumah yang ia idamkan. Itu disebabkan hatinya tidak tulus untuk yakin dan mengikuti petunjuk. Maka selamanya hati orang seperti ini berada dalam kegalauan, kegelisahan, kekhawatiran, dan tidak pernah lepas dari keraguan yang akan selalu membimbangkannya. Inilah yang dimaksud kehidupan yang sempit.”*_

Karena orang yang selalu ingin bersenang-senang dalam hidupnya jauh dari hidayah, maka otomatis hatinya akan selalu kosong dari hidayah dan hanya disesaki oleh pikiran dan lamunan dunia. Akibatnya hatinya akan selalu terasa sempit, meski sewaktu-waktu ia memaksakan diri menyenangkan hatinya dengan healing duniawi. Kesenangan sesaat itu pun, tegas Allah swt dalam firman-Nya, hakikatnya hanya tipuan-tipuan dari setan, sebagai konsekuensi jalan hidup yang berpaling dari dzikir.

وَمَن يَعۡشُ عَن ذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ نُقَيِّضۡ لَهُۥ شَيۡطَٰنٗا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٞ  ٣٦ وَإِنَّهُمۡ لَيَصُدُّونَهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ  ٣٧

_*Siapa yang berpaling dari dzikir kepada Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk*_(QS. az-Zukhruf [43] : 36-37).

Kata _ya’syu_ (berpaling) asal katanya _‘asya_ dan berlaku pada mata. Maknanya: Penglihatan mata (_bashar_) yang kurang jelas. Tetapi yang dimaksud dalam ayat ini adalah “penglihatan hati (_bashirah_) yang tidak tajam”. Maksudnya berpura-pura buta, sengaja lalai, dan berpaling dari dzikir. Demikian al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan. 

Bagi mereka yang dalam kesehariannya membutakan hatinya dari dzikir, otomatis hidupnya akan selalu ditemani setan, dan setan menipu manusia bahwa kebahagiaan itu adanya di hiburan dan bersenang-senang, maka jadilah ia merasa benar dengan asumsinya bahwa healing itu bersenang-senang duniawi.

Nabi saw teladan mulia dalam healing. Meski ada kalanya beliau lelah hati tetapi selalu mudah tersegarkan kembali karena dzikir sudah menjadi hiasan dalam hidupnya. 

‘Aisyah ra menjelaskan:

كَانَ رَسُولُ الله ﷺ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

_*Rasulullah saw senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap waktunya*_ (Shahih Muslim kitab al-haidl bab dzikril-‘Llah fi halil-janabah wa ghairihi no. 852).

Bahkan dalam kegiatan perjalanan safar pun beliau selalu tidak pernah lupa mengisinya dengan kegiatan-kegiatan dzikir khususnya ketika keluar rumah dan naik kendaraan.

 بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

_*Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.*_


الله أَكْبَرُ x3

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

_*Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar 3x*_

_*Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga*_


عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

_*Dari ‘Amir ibn Rabi’ah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw di atas unta shalat sunnah sambil berisyarat dengan kepalanya ke arah mana saja beliau menghadap. Tetapi Rasulullah saw tidak pernah mengerjakan hal itu dalam shalat wajib.”*_(Shahih al-Bukhari bab yanzilu lil-maktubah; turun dari kendaraan untuk shalat wajib—hanya boleh shalat sunnah saja, no. 1097)

قَالَ ابْنُ عُمَرَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ

_*Ibn ‘Umar berkata: “Rasulullah saw shalat sunnah di atas unta ke arah mana saja beliau menghadap dan shalat witir di atasnya. Tetapi beliau tidak pernah mengerjakannya dalam shalat wajib.”*_(Shahih al-Bukhari bab yanzilu lil-maktubah; turun dari kendaraan untuk shalat wajib—hanya boleh shalat sunnah saja, no. 1098)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

_*Dari Jabir ibn ‘Abdillah: “Nabi saw pernah shalat di atas untanya ke arah timur (padahal qiblat dari Madinah itu ke arah selatan—pen). Apabila hendak shalat wajib, beliau turun dan menghadap qiblat.”*_ (Shahih al-Bukhari bab yanzilu lil-maktubah; turun dari kendaraan untuk shalat wajib—hanya boleh shalat sunnah saja, no. 1099)

Jika tidak shalat, Nabi saw mengisi kegiatan safarnya dengan membaca al-Qur`an:

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الْفَتْحِ

_*Dari ‘Abdullah ibn Mughaffal, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw pada hari Fathu Makkah membaca surat al-Fath di atas kendaraan.”*_ (Shahih al-Bukhari bab al-qira`ah ‘alad-dabbah no. 5034). 

Atau membaca lafazh-lafazh dzikir:

عن جابر قَالَ: كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

_*Dari Jabir ra: “Kami apabila naik di perjalanan maka kami bertakbir (Allahu Akbar), dan apabila menurun kami bertasbih (Subhanal-'Llah).”*_(Shahih al-Bukhari bab at-tasbih idza habatha wadiyan no. 2993)

وعن ابن عمرَ رضي اللهُ عنهما، قَالَ: كَانَ النَّبيُّ ﷺ وجيُوشُهُ إِذَا عَلَوا الثَّنَايَا كَبَّرُوا، وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

_*Dari Ibn ‘Umar ra: “Nabi saw dan pasukannya apabila naik dalam perjalanan maka mereka bertakbir, dan apabila menurun mereka bertasbih.”*_ (Sunan Abi Dawud bab ma yaqulur-rajul idza safara no. 2601)

Maka dari itu usahakan sepanjang menyetir kita memperbanyak dzikir, kalaupun harus mendengarkan hiburan ataupun nyanyian pilihlah yang liriknya baik dan positif; bernuansa religi agar kondisi hati dan rohani tetap terkoneksi dengan sang ilahi, Allah swt.

Semoga kita selalu mampu berdzikir sepanjang menyetir. Mudah-mudahan Allah swt melindungi kita sepanjang perjalanan dengan selamat tanpa kekurangan sedikitpun. Aamiin

Wal-‘Llahul-Musta'an.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Al-Muqarrabun (Sabiqun bil-khairat)

Kisah Wanita Yang Terkena Penyakit Ayan (Epilepsi)