Erupsi Gunung Menegur Tauhid Kita
Gunung anak krakatau beberapa kali mengalami erupsi yang tidak dapat dijangkau perkiraan sebelumnya. Besarnya letusan juga seringkali lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Tauhid kita pun ditegur olehnya. Sejauhmana kita mengimani kekuasaan Allah swt mendatangkan bencana di luar perkiraan manusia? Sejauhmana juga kita waspada terhadap siksa yang pasti datang tanpa bisa diduga sebelumnya?_
Syaikh Muhammad Ibn 'Abdil-Wahhab dalam _Kitab at-Tauhid_-nya menuliskan satu bab tentang firman Allah swt;
أَفَأَمِنُوا۟ مَكْرَ ٱللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
_*Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi*_(QS. Al-A'raf [7] : 99)
Syaikh 'Abdurrahman Ibn Hasan dalam kitabnya _Fathul-Majid_ menjelaskan bahwa pencantuman bab tentang ayat di atas merupakan sebuah pengajaran bahwa tauhid yang sempurna tidak mungkin dimiliki oleh orang-orang yang merasa aman-aman saja dari siksa Allah swt. Seseorang yang bertauhid sudah tentu selalu merasa takut dan waspada dari datangnya siksa Allah swt. Dalam hal ini Nabi saw pernah menyabdakan,
عن بن مسعود قال أكبر الكبائر الإشراك بالله والأمن من مكر الله والقنوط من رحمة الله واليأس من روح الله
_Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, *merasa aman dari murka Allah* dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.”_(Mushannaf Abdurrazzaq, 10: 460, dikeluarkan pula oleh At-Thabrani. Kitab Tauhid dengan tahqiq Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth, hal. 128).
Dalil di atas mengajarkan manusia bahwa tauhid hendaknya menuntun seseorang untuk senantiasa sadar bahwa Allah swt Mahakuasa mendatangkan siksa dari arah yang tidak terduga. Maka tidak sepantasnya seorang muslim malas ibadah, lalai dari _dzikrullah_, abai dari mengkaji dan mengamalkan al-Qur`an, tidak bersemangat memenuhi panggilan adzan-Nya, tidak bernafsu melaksanakan ibadah-ibadah sunnahnya, lebih bergairah menonton hiburan, gadget, bioskop, televisi dari pada _thalabul-'ilmi_ di masjid-masjid, menghabiskan waktu hanya untuk menghibur diri dengan mengenyampingkan ibadah, dan menyikapi musibah alam hanya sebagai tontonan semata seakan-akan hanya menimpa orang lain dan tidak akan menimpa dirinya. Maka dari itu Allah swt sering menegur manusia;
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦
_*Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.*_
اَفَاَمِنَ اَهۡلُ الۡـقُرٰٓى اَنۡ يَّاۡتِيَهُمۡ بَاۡسُنَا بَيَاتًا وَّهُمۡ نَآٮِٕمُوۡنَؕ
_*Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?*_
اَوَاَمِنَ اَهۡلُ الۡقُرٰٓى اَنۡ يَّاۡتِيَهُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًى وَّهُمۡ يَلۡعَبُوۡنَ
_*Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?*_
اَفَاَمِنُوۡا مَكۡرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَاۡمَنُ مَكۡرَ اللّٰهِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
_*Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.*_ (QS. Al-A'raf [7] : 96-99)
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰٓى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ ٦٥
_*Katakanlah, “Dialah Allah Yang Mahakuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia memecah belah kamu menjadi golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(-nya).*_(QS. Al-An'am [6] : 65).
فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ٤٠
_*Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri*_(QS. al-‘Ankabut [29] : 40).
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا ظَهَرَ السُّوْءُ فِي الْأَرْضِ أَنْزَلَ اللهُ بِأَهْلِ اْلأَرْضِ بَأْسَهُ. قَالَتْ: وَفِيْهِمْ أَهْلُ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: نَعَمْ, ثُمَّ يَصِيْرُوْنَ إِلَى رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى
_*Nabi saw bersabda: “Apabila telah tampak jelas keburukan di muka bumi, maka Allah swt akan menurunkan siksa-Nya kepada penduduk bumi.” Tanya ‘Aisyah: “Walau di tengah-tengah mereka ada orang-orang yang taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Jawab Nabi: “Ya, tapi kemudian (di akhirat) mereka dikembalikan pada rahmat Allah swt (surga).”*_ (Musnad Ahmad 6 : 41 no. 24179)
Dan bagi siapapun yang belum mengalaminya, bencana alam itu pada hakikatnya sedang mengintai di hadapannya. Ia akan datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Merenggut nyawa orang-orang yang enggan berhenti dari kedurhakaannya, sekaligus orang-orang beriman yang belum berhasil meminimalisir kedurhakaan sampai jumlah yang lebih kecil daripada keshalihan.
Begitupun ketika melihat kemunkaran baik itu pada aparatur pemerintahan ataupun di level bawah sekalipun khususnya lingkungan sekitar, maka jangan sampai kita abai begitu saja, bersikap acuk tak acuh sehingga itu semua mengundang siksa Allah swt datang dengan sendirinya.
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوْهُ يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ
_*“Sesungguhnya manusia itu, apabila mereka melihat kemunkaran lalu mereka tidak merubahnya, maka hampir sekali Allah meliputi mereka dengan siksa.”*_(Shahih Ibn Hibban dzikr al-bayan bi annal-muta`awwil qadh yukhthi`u fi ta`wilihi no. 305).
قِيْلَ أَنَهْلِكُ وَفِيْنَا الصَّالِحُوْنَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
_*Ditanyakan (oleh Zainab): “Apakah kami akan binasa padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab: “Ya, apabila banyak yang jeleknya (pendosanya lebih banyak dari yang ta'atnya).”*_(Shahihh al-Bukhari kitab al-fitan bab qaulin-Nabiy wailun lil-‘arab min syarrin qad-iqtaraba no. 6650)
Maka masih pantaskah ada orang yang merasa aman-aman saja berbuat makar dari datangnya makar Allah swt? Ataukah masih pantas hanya bercuap-cuap menjelaskan sebab ilmiah dari bencana alam seraya mengabaikannya sebagai teguran keras dari Allah swt? Atau merasa cukup shalih dirinya sendiri saja tanpa tergerak beramar ma’ruf nahyi munkar kepada yang lainnya?
Maka dari itu marilah kita semua bersimpuh beristighfar, bertaubat serta selalu amar ma'ruf nahyi munkar agar Allah swt mengangkat musibah yang terjadi dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu kembali kepada-Nya atas dosa-dosa kita selama ini. Wal-‘Llahul-Musta’an
Komentar
Posting Komentar